Oleh : Faisal Hatami
2009,
tahun permulaan saya kuliah. Untuk kali pertama meninggalkan kampung halaman,
jauh dari rumah, teman, dan sanak saudara. Pada satu-dua bulan pertama memang
ada sedikit masalah, terutama dalam soal yang remeh-temeh seperti makanan dan
kebisingan kota. Tapi dari sudut paham kehidupan, saya tidak merasakan shock
tertentu.
Saya
bisa dengan mudah bergaul dengan teman-teman baru, bercengkrama,
berbncang-bincang. Perlahan saya mulai membiasakan diri dengan lingkungan di
perkotaan dan kampus. Meskipun suka muncul keinginan kembali ke masa SMA.
Saya
melihat manusia punya kemampuan untuk beradaptasi. Nilai dan budaya bukan suatu
hal yang mutlak, bukan sesuatu yang kalau “sudah dari sononya begitu” tidak
bisa berubah. Kultur, kebiasaan, kebudayaan, nilai itu fleksibel dan yang
menentukan adalah manusia.
Kita
tak bisa mengelak bahwa adanya perubahan nilai. Tidak ada satupun kelompok atau
komunitas masayarakat, kecuali mau disebut masyarakat terasing, yang
terisolasi, yang tidak mengalami perubahan nilai, perubahan orientasi,
perubahan cara hidup. Pertanyaannya: apakah kita mau mandek pada suatu sistem
nilai tertentu, sementara dunia berubah. Kita mau mengikuti perubahan dunia
atau kita mau dunia yang mengikuti kita?
Saya
kadang-kadang sentimentil. Mengingat masa kecil di sebuah desa kecil yang
indah, hidup dengan saudara-saudara, dan sekarang saya harus tinggal di
Semarang untuk meneruskan kuliah ke jenjang lebih tinggi. Apakah saya ingin
melihat masa kecil saya yang indah, lalu sedih terus-menerus, meratapi masa
yang sudah berlalu, ataukah saya akan melihat ke depan?
Memang
ada sesuatu yang hilang. Saya, misalnya, semula hidup dalam suatu keluarga dan
masyarakat tertentu, yang memegang nilai-nilai tertentu. Tentu ada porsi-porsi
nilai dalam diri saya yang tergantikan oleh sistem nilai baru, dan nilai-nilai
yang lama itu mungkin hilang entah ke mana. Tapi saya anggap itu sebagai bagian
dari proses saya untuk menjadi lebih dewasa, lebih arif, lebih luas melihat
dunia. Saya melihat tumbuhnya diri saya sendiri dalam melihat dunia.
Tinggal
bagaimana kita melihat perubahan itu. Kita mau melihatnya sebagai sesuatu yang
membuat kita sedih dan merasa terdesak. Atau kita mau menyambutnya dengan
tangan terbuka dan mengakui bahwa itulah hidup dan kita ingin melihat yang
terbaik dari sana? Itu adalah hukum alam: perubahan dalam setiap hal. Hidup pun
secara fisik berubah. Ini adalah hal yang elementer. Kalau tidak ada perubahan
tidak ada kemajuan.
Jadi,
saya senang bahwa saya berkembang. Bukan karena saya menjadi orang lain, tapi
karena saya berkembang sabagai manusia; menjadi mampu melihat begitu banyak
hal, belajar begitu banyak, belajar mengadopsi paham yang baru. Saya tidak
perlu membenci paham yang lama atau cara lama.
Dalam
hal kebebasan, saya kadang melihatnya sebagai cara pandang manusia melihat
kehidupan. Apakah secara alamiah, kita mau pesismis melihat ke belakang,
melihat apa yang berbahaya dan yang jelek dari kehidupan, atau kita mau melihat
yang bagus dan bermanfaat?
Kalau
kita melihat manusia tumbuh bebas dan memilih, mampukah kita bersikap
optimistis bahwa mereka pada akhirnya akan memilih dengan benar dan baik? Atau
kita akan selalu takut, berdebar-debar, khawatir jangan-jangan akan begini dan
begitu? Jadi saya melihat ada dua cara melihat kehidupan yang berhubungan
dengan pandangan kita tentang manusia, tentang kebebasan, tentang perubahan.
Kalau
kita secara alamiah, optimistis, tangan terbuka, melihat ke depan, rasanya kita
akan lebih gampang menerima paham yang disebut kebebasan—menerima freedom
sebagai kehendak untuk bebas itu.
Pastinya:
ada perubahan, ada perkembangan, ada sebuah proses di mana manusia mampu
belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kalaupun disebut ada porsi-porsi
nilai yang hilang, ada juga penggantinya. Dan mungkin penggantinya lebih baik.
Harus begitu. Kalau tidak begitu, kita melangkah ke belakang.
0 komentar:
Posting Komentar