Sinergi Berkarya

Sabtu, 21 Maret 2015

Komunitas Anak Tangga: Perubahan dan Kemajuan

Oleh : Faisal Hatami

2009, tahun permulaan saya kuliah. Untuk kali pertama meninggalkan kampung halaman, jauh dari rumah, teman, dan sanak saudara. Pada satu-dua bulan pertama memang ada sedikit masalah, terutama dalam soal yang remeh-temeh seperti makanan dan kebisingan kota. Tapi dari sudut paham kehidupan, saya tidak merasakan shock tertentu.
Saya bisa dengan mudah bergaul dengan teman-teman baru, bercengkrama, berbncang-bincang. Perlahan saya mulai membiasakan diri dengan lingkungan di perkotaan dan kampus. Meskipun suka muncul keinginan kembali ke masa SMA.
Saya melihat manusia punya kemampuan untuk beradaptasi. Nilai dan budaya bukan suatu hal yang mutlak, bukan sesuatu yang kalau “sudah dari sononya begitu” tidak bisa berubah. Kultur, kebiasaan, kebudayaan, nilai itu fleksibel dan yang menentukan adalah manusia.
Kita tak bisa mengelak bahwa adanya perubahan nilai. Tidak ada satupun kelompok atau komunitas masayarakat, kecuali mau disebut masyarakat terasing, yang terisolasi, yang tidak mengalami perubahan nilai, perubahan orientasi, perubahan cara hidup. Pertanyaannya: apakah kita mau mandek pada suatu sistem nilai tertentu, sementara dunia berubah. Kita mau mengikuti perubahan dunia atau kita mau dunia yang mengikuti kita?
Saya kadang-kadang sentimentil. Mengingat masa kecil di sebuah desa kecil yang indah, hidup dengan saudara-saudara, dan sekarang saya harus tinggal di Semarang untuk meneruskan kuliah ke jenjang lebih tinggi. Apakah saya ingin melihat masa kecil saya yang indah, lalu sedih terus-menerus, meratapi masa yang sudah berlalu, ataukah saya akan melihat ke depan?
Memang ada sesuatu yang hilang. Saya, misalnya, semula hidup dalam suatu keluarga dan masyarakat tertentu, yang memegang nilai-nilai tertentu. Tentu ada porsi-porsi nilai dalam diri saya yang tergantikan oleh sistem nilai baru, dan nilai-nilai yang lama itu mungkin hilang entah ke mana. Tapi saya anggap itu sebagai bagian dari proses saya untuk menjadi lebih dewasa, lebih arif, lebih luas melihat dunia. Saya melihat tumbuhnya diri saya sendiri dalam melihat dunia.
Tinggal bagaimana kita melihat perubahan itu. Kita mau melihatnya sebagai sesuatu yang membuat kita sedih dan merasa terdesak. Atau kita mau menyambutnya dengan tangan terbuka dan mengakui bahwa itulah hidup dan kita ingin melihat yang terbaik dari sana? Itu adalah hukum alam: perubahan dalam setiap hal. Hidup pun secara fisik berubah. Ini adalah hal yang elementer. Kalau tidak ada perubahan tidak ada kemajuan.
Jadi, saya senang bahwa saya berkembang. Bukan karena saya menjadi orang lain, tapi karena saya berkembang sabagai manusia; menjadi mampu melihat begitu banyak hal, belajar begitu banyak, belajar mengadopsi paham yang baru. Saya tidak perlu membenci paham yang lama atau cara lama.
Dalam hal kebebasan, saya kadang melihatnya sebagai cara pandang manusia melihat kehidupan. Apakah secara alamiah, kita mau pesismis melihat ke belakang, melihat apa yang berbahaya dan yang jelek dari kehidupan, atau kita mau melihat yang bagus dan bermanfaat?
Kalau kita melihat manusia tumbuh bebas dan memilih, mampukah kita bersikap optimistis bahwa mereka pada akhirnya akan memilih dengan benar dan baik? Atau kita akan selalu takut, berdebar-debar, khawatir jangan-jangan akan begini dan begitu? Jadi saya melihat ada dua cara melihat kehidupan yang berhubungan dengan pandangan kita tentang manusia, tentang kebebasan, tentang perubahan.
Kalau kita secara alamiah, optimistis, tangan terbuka, melihat ke depan, rasanya kita akan lebih gampang menerima paham yang disebut kebebasan—menerima freedom sebagai kehendak untuk bebas itu.
Pastinya: ada perubahan, ada perkembangan, ada sebuah proses di mana manusia mampu belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kalaupun disebut ada porsi-porsi nilai yang hilang, ada juga penggantinya. Dan mungkin penggantinya lebih baik. Harus begitu. Kalau tidak begitu, kita melangkah ke belakang.


0 komentar:

Posting Komentar